BOLANO — Pelaksanaan upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada hari Kamis, 1 Oktober 2026, di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Parigi berlangsung dengan sangat khidmat dan tertib. Kegiatan kenegaraan ini dilaksanakan secara luring penuh di lapangan madrasah, dan dimulai tepat pada pukul 08.00 waktu setempat.  

​Mengikuti edaran dan pedoman resmi dari kementerian, peringatan tahun ini mengusung tema nasional “Pancasila Pemersatu Bangsa menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Sesuai dengan instruksi pelaksanaan, pihak madrasah juga telah menaikkan bendera Merah Putih satu tiang penuh sejak pukul 06.00 WITA.  

​Bertindak selaku Pembina Upacara adalah Kepala MTsN 3 Parigi, Bapak Syamsul Bahri, S.Ag. Dalam pelaksanaannya, beliau didampingi secara langsung oleh seluruh jajaran dewan guru beserta staf tata usaha madrasah yang hadir dengan formasi lengkap.

​Hal yang menarik dan menjadi kebanggaan pada upacara kali ini adalah keterlibatan aktif dari Dewan Pramuka MTsN 3 Parigi yang mengambil peran penuh sebagai petugas pelaksana. Amanah sebagai Pemimpin Upacara dipercayakan kepada Moh Akhdan A Manasa, siswa kelas VIII yang saat ini memegang jabatan sebagai Wakil Pemimpin Regu Elang. Ia sukses memimpin jalannya barisan dengan suara lantang dan penuh kedisiplinan.

​Suasana sakral dan rasa nasionalisme semakin kental terasa ketika Tim Paduan Suara dari Dewan Pramuka melantunkan persembahan lagu. Selain menyanyikan Andhika Bhayangkari yang merupakan bagian dari susunan acara pokok, tim paduan suara juga membawakan lagu Gugur Bunga yang sukses menyentuh hati seluruh peserta upacara.  

​Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di MTsN 3 Parigi tidak berhenti pada rangkaian seremonial formal saja. Setelah upacara selesai, lapangan madrasah langsung diubah menjadi panggung unjuk bakat bagi para siswa-siswi. Berbagai penampilan seni disuguhkan dengan apik, mulai dari pembacaan puisi bertema kebangsaan, nyanyian lagu-lagu nasional, hingga hiburan lagu pop Indonesia.

​Melalui rangkaian kegiatan ini, pihak madrasah menegaskan bahwa peringatan bersejarah tidak hanya menjadi momentum untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan mempertahankan ideologi bangsa. Lebih dari itu, madrasah juga menjadikannya sebagai wadah yang inklusif bagi para siswa untuk berkreasi, berekspresi, dan mengembangkan potensi seni mereka.